Oleh: akhchiko | Juli 29, 2008

Zikir Dalam Suasana Cahaya Redup

Zikir dalam Suasana Cahaya Redup & Gerakan SelamaBerdzikir
Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar Rabbani

Bismillah hirrohman nirRohim

Allah swt berfirman kepada Rasulullah saw, Wa min al-layli fa tahajjad bihi nafilatan laka (Dan pada sebagian malam hari, bertahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu (17:79) dan Dia berfirman, Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih khusuk dan bacaan di waktu itu lebih berkesan” (73:6).

Keutamaan shalat di malam hari telah dikenal di seluruh buku hadits dan fiqih karena pada saat itu tidak ada gangguan duniawi. Oleh sebab itu Imam Ghazali menulis tentang topik ini, “Pikiran berakar dari mata… orang yang mempunyai niat baik dan cita-cita yang tinggi tidak bisa dibelokkan dengan apa yang ada di hadapannya, tetapi yang lemah akan terjebak olehnya. Pemecahannya adalah dengan cara memutuskan hubungan dengan gangguan ini, yaitu dengan memejamkan mata, shalat di tempat yang gelap, tidak membiarkan sesuatu berada di depannya yang mungkin akan menarik perhatiannya dan tidak melakukan shalat di tempat yang penuh dengan dekorasi. Oleh sebab itu para Awliya biasa beribadah di ruangan yang gelap, sempit dan tidak banyak celah.” (Imam Ghazali, Ihya Ulum al-Din, buku mengenai Shalat).

Gerakan selama Berzikir

Dalam rujukan terhadap hadits Muslim di mana Rasulullah saw memuji para mufarridun, atau mereka yang berhati tunggal dalam mengingat Allah, Nawawi berkata, “Riwayat yang lain adalah, ‘Mereka adalah orang-orang yang bergoyang atau bergerak pada saat
menyebut atau mengingat Allah (hum al-ladzina ihtazzu fi zikir Allah), sehingga mereka menjadi sungguh-sungguh dalam berdoa dan hatinya terikat kepada Allah.” Imam Habib al-Haddad berkata, “Zikir kembali dari raut luar, yaitu lidah ke raut dalam, yaitu hati, di mana dia mengakar dengan kuat dan dapat mengikat erat anggota-anggota tubuhnya. Manisnya hal ini dapat dirasakan oleh orang-orang yang berzikir dengan seluruh anggota tubuhnya sehingga hati dan kulitnya menjadi lunak. Sebagaimana firman Allah, Kemudian kulit dan hati mereka menjadi lunak ketika mengingat Allah’ (39:23).” (Imam Habib al-Haddad, dalam Key to the Garden, hal. 116).

“Pelunakan hati” terdiri atas sensitivitas dan perasaan takut yang ditimbulkan dari kedekatan kepada Allah dan tajjali [manifestasi satu atau beberapa Atribut Ilahi]. Cukup Allah saja yang menjadi Teman Dekat bagi seseorang!

Sedangkan untuk “pelunakan kulit”, ini adalah keadaan terekstasi dan bergoyang dari satu sisi ke sisi yang lain akibat hubungan intim dan tajjali atau perasaan takut dan takjub. Tak ada salahnya bagi orang yang mencapai keadaan ini dan menyebabkan dia bergerak
mengikuti irama, karena dalam penderitaan yang luar biasa akan cinta dan hasrat yang menggebu, dia menemukan sesuatu yang membangkitkan kerinduan yang paling dalam…

Desakan yang ditimbulkan oleh rasa takut dan takjub mengantarkan pada tangisan dan memaksa orang menjadi gemetar dan rendah hati. Ini adalah keadaan yang dialami oleh orang-orang beriman yang saleh (abrar), ketika mereka mendengar Nama Allah iucapkan. “Hatimereka bergetar,” (39:23) kemudian hati mereka menjadi lunak dan cenderung untuk menyukai zikir Allah karena mereka diliputi ketenangan dan martabat, sehingga mereka tidak berlaku yg tidak baik, tidak menganggap dirinya penting, berisik, atau menyombongkan dirinya. Allah menggambarkan mereka sebagai orang yang akal
sehatnya telah pergi, yang dengan kelemah lembutan mereka menari dan melompat.


Tanggapan

  1. syeh hisyam ya..?hmmm…

  2. Nikmatnya Bermunajat dengan Allah…
    Ini sangat terasa, bila dilakukan pada malam hari yang sunyi dan sepi; tiada sedikitpun suara yang mengganggu.

  3. maaf.. gambarnya ikut-ikutan terkirim


Beri tanggapan

Your response:

Kategori